Ayam ras petelur termasuk salah satu jenis unggas yang memiliki nilai komersial yang tinggi. Ayam ras petelur khusus dibudidayakan untuk produksi telur. Untuk mernenuhi kebutuhan konsumen, ayam yang diternakkan harus berkualitas tinggi dengan kuantitas tetap dan berkesinambungan. Hal ini hanya akan terpenuhi jika ayam yang dipelihara berasal dari bibit unggul, diberi pakan yang cukup dan kandang yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Showing posts with label PENYAKIT. Show all posts
Showing posts with label PENYAKIT. Show all posts

Wednesday, June 17, 2015

Vaksinasi Korisa



Infectious Coryza (korisa) bukanlah suatu hal yang baru bagi kita semua terutama yang bergerak di bidang industri peternakan. Meskipun korisa tidak menyerang sistem reproduksi, bukan berarti tidak menyebabkan penurunan produksi telur. Penurunan nafsu makan menyebabkan nutrisi yang diperlukan tubuh tidak tercukupi sehingga produksi telur pun terganggu. Bahkan penurunan produksi dapat mencapai 10-40%. Akibat korisa, angka pengafkiran relatif tinggi serta terjadi peningkatan biaya untuk pengobatan. Pada ayam pedaging mengakibatkan pertumbuhan terganggu sehingga bobot badan tidak tercapai. Mencegah korisa pun bisa dibilang gampang-gampang susah. Hal ini terbukti berdasarkan hasil pemantauan tenaga lapangan Medion tahun 2007-2009, korisa selalu menduduki peringkat pertama pada ayam petelur.

Tabel 1. Ranking penyakit pada ayam petelur tahun 2007-2009



Sumber : Data Technical Service, Medion 2007-2009

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa persentase kejadian korisa selalu menurun dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena adanya program vaksinasi yang lebih baik dan juga didukung dengan biosecurity maupun manajemen.

Sekilas mengenai korisa, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Haemophilus paragallinarum. Bakteri tersebut mudah mati bila di luar tubuh hospes (ayam) serta sensitif terhadap semua desinfektan. Tempat predileksi pada sinus infraorbitalis yang miskin dengan pembuluh darah. Pemberian obat pada kasus yang sudah parah relatif sulit untuk mendapatkan kesembuhan secara tuntas. Selain sifat tersebut, ayam yang sembuh dari serangan penyakit akan tetap membawa bibit penyakit (bersifat carrier/ pembawa). Atas dasar itulah, mengapa vaksinasi korisa menjadi penting guna mencegah kerugian yang lebih besar lagi.





Kebengkakan pada mata akibat korisa yang ditumpangi dengan bakteri E. coli

Namun terkadang beberapa peternak mengeluhkan mengapa ayam sudah divaksinasi korisa namun masih bisa terjadi outbreak. Apakah memang karena vaksin yang digunakan tidak berkualitas? Secara umum kegagalan vaksinasi dapat diartikan bahwa titer antibodi yang terbentuk dari hasil vaksinasi tidak mampu melawan infeksi dari lapangan. Jika dilihat dari kompleksnya faktor penyebab kegagalan vaksinasi, kita haruslah jeli dalam mengevaluasi.

Evaluasi pertama yang harus dilihat adalah kapan outbreak tersebut terjadi? Apabila outbreak terjadi pada < 3 minggu post vaksinasi, hal ini berarti antibodi yang dihasilkan oleh vaksin belum terbentuk secara optimal dan terjadi infeksi dari lapangan. Atau ada kemungkinan pada saat dilakukan vaksinasi, di dalam tubuh ayam sedang terjadi masa inkubasi penyakit. Masa inkubasi penyakit yaitu masa dimana bibit penyakit menginfeksi sampai menimbulkan gejala klinis sehingga ayam seolah-olah sehat namun selang beberapa hari ayam menunjukkan gejala klinis korisa.

Outbreak yang terjadi pada > 3 minggu post vaksinasi, maka kita perlu mengevaluasi faktor penyebab kegagalan tersebut meliputi: Materi, Metode, Mileu/ lingkungan dan Manusia (4M).

1. Materi (Vaksin dan Ayam)

a. Vaksin

Vaksin berkualitas merupakan syarat mutlak untuk keberhasilan vaksinasi karena berpengaruh langsung terhadap potensi virus vaksin. Produksi Medivac Coryza mengacu pada standar nasional yaitu Farma-kope Obat Hewan Indonesia (FOHI) dan juga standar internasional seperti United State Pharmacopoeia, British Pharmacopoeia dan European Pharmacopoeia. Sebelum dipasarkan, vaksin tersebut harus melalui tahapanquality control (QC), baik uji potensi maupun keamanannya.

Bakteri H. paragallinarum pada Medivac Coryza masih memiliki kapsul yang menyelubungi sel (transparan)

Bakteri H. paragallinarum pada Medivac Coryza setelah diinaktif masih memiliki kapsul yang menyelubungi sel. Tujuannya adalah untuk melindungi sisi antigenik bakteri tetap utuh. Sisi antigenik inilah yang berfungsi untuk menghasilkan kekebalan tubuh pada ayam.

Vaksin korisa merupakan vaksin bakteri sehingga relatif lebih sulit dalam merangsang respon kekebalan yang tinggi. Berbeda dengan vaksin virus yang mampu menstimulasi pembentukan antibodi protektif dengan perlindungan > 80 %, vaksin korisa hanya distandarkan memberikan perlindungan > 70 %.

Dalam mengevaluasi kualitas vaksin perlu diperhatikan pula tanggal kadaluwarsa dan bentuk fisik sediaan vaksin. Vaksin yang baik belum kadaluwarsa, masih tersegel serta tidak ada perubahan bentuk fisik sediaan. Vaksin inaktif bentuk suspensi (Medivac Coryza B/Medivac Coryza T) yang pernah membeku dapat teridentifikasi dengan kecepatan adjuvant mengendap dalam waktu kurang dari 5 menit. Sedangkan pada vaksin inaktif bentuk emulsi relatif sulit dibedakan secara fisik. Vaksin yang sudah kadaluwarsa dan pernah membeku jangan digunakan karena sudah terjadi penurunan bahkan kerusakan potensi vaksin.

Lakukan pencatatan terhadap no. batch vaksin. Setiap batch Medivac selalu terdata di Medion dan jika ada komplain produk vaksin kita bisa dengan mudah melakukan penelusuran.

Vaksin inaktif belum pernah membeku (atas); pernah membeku (bawah)

Vaksin korisa berisikan bakteri yang dimatikan. Vaksin harus selalu terkondisikan pada suhu 2-8° C dan tidak boleh beku selama di gudang penyimpanan maupun transportasi. Terkadang untuk kepraktisan, peternak mengunakan kantong kresek yang diisi dengan sedikit es batu untuk membawa vaksin. Tanpa di sadari, hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi suhu vaksin sehingga dapat menyebabkan turunnya potensi vaksin. Distribusi vaksin dari kantor menuju kandang hendaknya menggunakan marina cooler atau styrofoam yang berisikan es batu.




b. Kondisi Ayam

Kondisi ayam akan berpengaruh terhadap kemampuan pembentukan titer antibodi. Hanya ayam yang sehat yang boleh divaksinasi. Untuk itu diperlukan ketelitian dari peternak untuk melakukan pengecekan terhadap kesehatan ayam. Secara sepintas, pemeriksaan kesehatan dapat dilihat dari adanya gangguan pernapasan, pencernaan, syaraf maupun konsumsi pakannya.

Ayam sakit sebaiknya jangan divaksin

Terdapat beberapa faktor immunosupressant yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh yaitu stres dan penyakit seperti CRD, gumboro, mikotoksin, dll yang dapat mempengaruhi keoptimalan dalam pembentukan titer antibodi. immnunosupressant akan mempengaruhi kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortikosteroid. Hormon inilah yang akan menghambat kerja organ limfoid (pembentuk kekebalan tubuh) sehingga antibodi yang dihasilkan menjadi tidak optimal.

Apabila ayam dalam kondisi sakit, harus dilakukan pengobatan terlebih dahulu untuk mengurangi derajat keparahannya, kemudian baru divaksin. Guna meningkatkan daya tahan tubuh ayam di berikan multivitamin seperti Vita Stress sebelum dan sesudah vaksinasi.



2. Metode

Kegagalan vaksinasi dapat disebabkan karena aplikasi/teknik vaksinasi yang tidak sesuai dengan petunjuk yang terdapat pada leaflet. Teknik ini terkait dengan persiapan dan penanganan vaksin, proses peningkatan suhu secara bertahap, kualitas alat suntik (Socorex) dan ketepatan jadwal vaksinasi.

Kesalahan penanganan vaksin dapat menyebabkan kerusakan potensi vaksin antara lain :


Penyimpanan vaksin tidak sesuai (tidak pada suhu 2-8° C) atau beku


Terkena sinar matahari langsung


Tercemar bahan-bahan kimia seperti desinfektan, kaporit, detergent


Tercemar logam-logam berat seperti Zn (seng), Pb (timbal) dan Hg (air raksa)


Vaksin inaktif tidak habis dalam waktu 24 jam setelah segel dibuka dan dikeluarkan dari kulkas/marina cooler


Setelah dikeluarkan dari kulkas/ marina cooler dan digunakan, vaksin dimasukkan kembali ke kulkas.

Vaksin inaktif yang baru dikeluarkan dari kulkas tidak boleh langsung disuntikkan ke ayam. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan range suhu antara tubuh ayam dengan suhu vaksin yang cukup jauh sehingga dapat menyebabkan stres. Untuk meningkatkan suhu vaksin maka sebelum digunakan, vaksin harus terlebih dahulu digenggam-genggam dengan telapak tangan.

Vaksin inaktif harus sering dikocok selama pelaksanaan vaksinasi agar bakteri dan adjuvant dapat tercampur secara homogen. Pengocokan yang kurang akan mengakibatkan sebagian ayam hanya mendapatkan adjuvantnya saja dan dengan kata lain ayam tidak mendapatkan 1 dosis vaksin penuh.

Aplikasi vaksin korisa dilakukan dengan cara injeksi subkutan (bawah kulit leher) atau injeksi intramuskuler (otot dada atau otot paha). Metode penyuntikan yang kurang tepat dapat menyebabkan vaksin tidak masuk secara sempurna ke dalam tubuh ayam sehingga mempengaruhi keseragaman dosis vaksin. Keseragaman dosis vaksin akan berpengaruh terhadap keseragaman titer antibodi yang terbentuk.




Teknik penyuntikan yang tepat, injeksi subkutan (atas), injeksi intramuskuler pada paha (bawah)

Vaksinasi dengan cara penyuntikan harus dilakukan secara hati-hati. Bila dilakukan dengan ceroboh mengakibatkan kegagalan dan akan berakibat fatal. Akibat fatal yang mungkin terjadi antara lain ayam menjadi stres sehingga kematian tinggi pasca penyuntikan, leher terpuntir, terjadinya abses (kebengkakan) pada leher atau kelumpuhan kaki.

Alat suntik yang akan dipakai harus bersih dari sisa pemakaian vaksin sebelumnya serta dalam kondisi steril. Pemakaian alat suntik yang tidak steril atau berkarat dapat menyebabkan peradangan pada area bekas penyuntikan.

Peradangan pada daerah bekas injeksi akibat jarum suntik berkarat

Proses sterilisasi alat suntik dapat dilakukan dengan melepaskan spare part/bagian-bagian dari alat suntik, lalu dicuci dengan detergen kemudian direbus selama 30 menit dihitung dari air mulai mendidih. Sedangkan untuk memastikan volume vaksin, terutama setelah ada penggantian spare part, perlu dilakukan proses kalibrasi alat suntik. Kalibrasi secara sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan metode volumetri yaitu dengan membandingkan volume cairan yang terdapat pada alat suntik dengan tabung ukur. Cara ini cukup praktis dan efisien sehingga keseragaman dosis vaksin yang diterima oleh ayam dapat seragam. Apabila volume yang terdapat pada alat suntik dengan tabung ukur tidak sama maka sebaiknya alat suntik tersebut tidak digunakan untuk vaksinasi. Alat suntik tersebut perlu dilakukan kalibrasi dengan metode gravimetri yang dilakukan oleh instansi tertentu (Medion).

Tabung ukur (kiri); Alat suntik socorex (kanan)

Ketepatan jadwal vaksinasi tidak boleh terlupakan dari bagian evaluasi ini. Vaksinasi yang terlalu sering maupun terlambat sama-sama memiliki resiko. Vaksinasi yang terlalu sering dapat menyebabkan stres pada ayam. Vaksinasi yang terlambat, dikhawatirkan ketika ada serangan dari lapangan, tubuh belum memiliki antibodi yang mampu menangkalnya. Alhasil, outbreak pun tak dapat terelakkan. Sebagai panduan umum vaksinasi korisa pada ayam petelur di berikan pada umur 6-8 minggu dan diulang pada umur 16-18 minggu. Sedangkan pada ayam pedaging diberikan pada umur 1-2 minggu. Namun jadwal vaksinasi tersebut juga disesuaikan dengan umur rawan serangan korisa. Vaksinasi hendaknya dilakukan minimal pada 3 minggu sebelum terjadinya outbreak berdasarkan sejarah kasus sebelumnya. Hal ini didasarkan pada waktu yang diperlukan oleh vaksin inaktif untuk membentuk titer antibodi protektif




3. Mileu

Mileu merupakan segala sesuatu yang terkait antara lingkungan dengan peternakan. Meskipun program vaksinasi yang diberikan sudah tepat, namun bila jumlah bibit penyakit yang ada di lapangan tinggi maka tidak menutup kemungkinan titer antibodi yang terbentuk tidak mampu menahan serangan.

Penumpukan feses di bawah kandang

Hal-hal yang dapat memicu tingginya bibit penyakit di lapangan antara lain :


Penumpukan feses di kandang


Tempat pakan dan minum yang jarang dibersihkan


Penyemprotan kandang yang tidak intensif


Tidak dilakukan penyemprotan terhadap orang-orang yang akan masuk kandang


Lalu lintas orang/kendaraan yang keluar masuk kandang tidak terkontrol


Hewan liar/serangga/rodentia yang berperan dalam menularkan bibit penyakit tidak terkendali


Pemeliharaan serta managemen yang semrawut antara ayam dewasa dengan ayam kecil


Tidak menerapkan sistem “all in all out” terutama pada ayam petelur

Kita harus menyadari bahwa vaksinasi bukanlah satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit. Sebagai pendukung keberhasilan vaksinasi, diperlukan pula serangkaian langkah untuk meminimalkan jumlah bibit penyakit yang ada di lapangan melalui sanitasi, desinfeksi serta biosecurity. Sehebat-hebatnya vaksin jika tanpa didukung dengan upaya tersebut maka hasilnya akan sia-sia.

Desinfeksi alas kaki sebelum masuk kandang untuk meminimalkan jumlah bibit penyakit


4. Manusia

Semua orang yang terkait dengan peternakan tersebut memiliki andil yang besar dalam mencegah terjadinya outbreak penyakit. Rendahnya pengetahuan dan kemampuan terutama dalam penanganan dan aplikasi vaksin merupakan titik awal dari berhasil atau tidaknya vaksinasi. Dengan demikian skill dan pengetahuan peternak maupun karyawan perlu ditingkatkan.

Pendidikan dan Pelatihan peternak, PT Medion


Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan salah satunya dengan mengikuti kegiatan seminar, pendidikan dan pelatihan yang diadakan oleh instansi-instansi terkait. Pelatihan dan pembinaan juga dapat dilakukan secara langsung di lapangan.



Bagaimana jika terjadi outbreak korisa ?

Jangan hanya terlena dengan evaluasi, tindakan harus segera diambil guna mengantisipasi penyebaran yang lebih luas dan menekan keparahan penyakit. Langkah yang harus diambil adalah :


Segera lakukan pemisahan/isolasi terhadap ayam yang sudah terlihat parah. Hal ini untuk meminimalisir penularan terutama dari lendir yang dikelurkan oleh ayam sakit


Pemberian antibiotik spektrum luas serta memiliki daya serap tinggi ke jaringan seperti Proxan-C, Trimezyn-S,Neo Meditril atau Therapy. Jika kondisi ayam sudah parah dimana terjadi kebengkakan mata, maka pemberian obat yang paling efektif melalui injeksi. Antibiotik yang bisa diberikan Vet Strep, Gentamin, Medoxy-LA atau Neo Meditril-I


Desinfeksi kandang dan tempat minum secara rutin sehari sekali. Lendir yang keluar dari hidung dan bercampur dengan air minum menjadi sumber penularan utama. Dengan demikian, perlu dilakukan desinfeksi air minum dengan Desinsep, Antisep atau Neo Antisep. Namun apabila sedang ada pengobatan via air minum, sebaiknya desinfeksi air minum dilakukan malam hari atau diendapkan terlebih dahulu minimal selama 12 jam.


Pemberian multivitamin seperti Fortevit, Aminovit atau Vita Stress untuk membantu meningkatkan stamina serta mempercepat proses kesembuhan


Jika perlu, pertimbangkan revaksinasi dengan menggunakan Medivac Coryza B/Medivac Coryza T suspensiondengan dosis 0,5 ml tiap ekor

Medivac Coryza T Suspension (kiri) dan Medivac Coryza B (kanan)

Mengevaluasi kegagalan vaksinasi harus dilakukan secara cermat sehingga akan ditemukan akar permasalahannya serta dijadikan pembelajaran untuk ke depannya. Mengambil hikmah dari setiap kejadian merupakan hal terbaik untuk proses perbaikan. Demikian, semoga bermanfaat dan sukses selalu.

(http://info.medion.co.id).

Thursday, June 11, 2015

Diagnosa ND, AI atau IB dengan tepat


Salah satu tujuan dari peternakan ayam petelur adalah mendapatkan produksi telur yang optimal. Namun bagaimana bila terdapat gangguan penurunan produksi telur? Tentu hal ini akan menurunkan tingkat produksi. Banyak faktor yang harus dievaluasi terhadap penyebab penurunan produksi telur tersebut diantaranya pakan, kondisi lingkungan, stres, kualitas ayam saat masa starter, grower atau setelah memasuki fase produksi serta penyakit.

Berbicara mengenai penyakit viral yang dapat menurunkan produksi telur, yang paling sering adalah ND (Newcastle disease), IB (infectious bronchitis), AI (avian influenza) dan EDS (egg drop syndrome). Dari hasil pengumpulan data di lapangan sebanyak 2428 kasus penyakit pada ayam layer di tahun 2009, ND, IB dan AI menunjukkan persentase masing-masing 10,63%, 2,84 % dan 1,85 %.

Tabel 1. Ranking penyakit pada ayam layer tahun 2009


Sumber : Data Technical Service Medion, 2009

Berdasarkan pengamatan di lapangan, memang relatif sulit membedakan kasus ND, AI maupun IB. Hal ini dikarenakan adanya gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi yang relatif sama antara ketiga penyakit tersebut. Terlebih lagi kita dibingungkan dengan isu penyakit tertentu misalnya AI sehingga persepsi diagnosa kita mengarah ke AI meski bisa saja kasus yang terjadi adalah ND. Agar tidak terjadi kesalahan dalam mendiagnosa ND, AI maupun IB maka perlu dipelajari gejala-gejala penyakitnya secara detail.

Dalam mendiagnosa penyakit maka yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan data-data berupa anamnesa, gejala klinis, serta perubahan patologi anatomi (bedah bangkai) dan juga uji laboratorium jika diperlukan.

1. Anamnesa

Keterangan dari peternak merupakan informasi penting untuk mengarahkan diagnosa. Keterangan yang diperlukan antara lain umur dan tipe ayam, persentase kematian, lamanya penularan penyakit, sejarah vaksinasinya, kasus penyakit pada periode pemeliharaan sebelumnya, dll.

Pengamatan terhadap pola penularan penyakit dapat memberikan gambaran diagnosa. Menurut Tabbu (2002), pada infeksi alami leleran hidung yang mengandung virus ND akan dibebaskan dari ayam sakit sebagai akibat replikasi virus tersebut di dalam saluran pernapasan. Virus ND yang diekskresikan (dikeluarkan,red) bersama feses akan menyebar dengan lambat, terutama jika ayam tidak kontak secara langsung dengan ayam sakit. Masa inkubasi (waktu mulai bibit penyakit menginfeksi sampai munculnya gejala klinis) berkisar antara 2-15 hari dan rata-rata 5-6 hari.

Virus AI ditularkan dengan kontak langsung dari unggas peka melalui leleran hidung, konjungtiva dan feses. Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung seperti melalui debu, ransum, air minum maupun peralatan kandang yang terkontaminasi oleh virus AI. Masa inkubasi sangat cepat yaitu berkisar beberapa jam sampai 3 hari.

Masa inkubasi pada kasus IB hampir mirip dengan AI yaitu berkisar antara 18-36 jam. Penularan dapat terjadi melalui leleran hidung ataupun feses ayam yang sakit.

Penyakit ND, AI maupun IB dapat menunjukkan angka kematian tinggi. Pada kasus ND dan AI, dapat menyebabkan kematian hingga 90–100 % . Terlebih lagi jika ayam belum pernah divaksin AI, maka kematian drastis dan bahkan mencapai 100 % dalam waktu 3 hari. Sedangkan anak ayam yang terserang IB, tingkat kematian berkisar 0-40%, berbeda dengan ayam fase produksi yang mencapai 25%. Namun, banyaknya tingkat kematian tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah maupun tingkat keganasan virus tantang yang ada di lapangan.



2. Gejala Klinis

a. Penurunan produksi telur

Permasalahan yang paling terlihat nyata pada peternakan ayam layer yang sudah memasuki masa produksi adalah terjadinya penurunan produksi telur. Namun untuk mendiagnosa tidak hanya semata-mata berdasarkan penurunan produksi telur. Tetapi juga dari segi penurunan kualitas telur . Ketiga penyakit viral tersebut dapat menunjukkan warna telur yang pucat hingga berwarna putih dan terkadang kerabangnya tipis maupun lembek.


(a) (b)

Kerabang telur pucat (a); putih telur encer spesifik penyakit IB (b)
(Sumber : www.theranger.co.uk & Dok. Medion)

Serangan penyakit IB mampu menurunkan produksi telur hingga 60% dalam waktu 6-7 minggu. Penurunan produksi telur selalu diikuti dengan penurunan kualitas telur seperti gangguan bentuk telur, kerabang lembek dan cairan albumin (putih telur) lebih encer daripada biasanya. Putih telur yang encer merupakan ciri spesifik dari penyakit IB. Selain putih telur encer, terkadang juga ditemukan darah di dalam albumin atau kuning telur (blood spot). Sedangkan penurunan produksi pada AI dapat mencapai 80% dan ND bisa mencapai 100% dalam waktu cepat.


b. Feses (kotoran ayam)

Feses juga bisa memberikan rambu untuk mengarahkan penyakit, namun tidak terlalu spesifik. Pada kasus AI, warna feses cenderung hijau pupus yang kadang disertai darah dan lendir yang dominan sehingga bentuknya seperti pasta dan menempel pada pantat. ND cenderung menunjukkan manifestasi feses berwarna hijau lumut campur keputihan dan biasanya lebih encer jika dibandingkan pada kasus AI. Tetapi yang perlu dicatat, jika peternak tidak biasa mengamati perubahan feses tersebut maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena pengamatan feses ini tidak bisa dijadikan patokan utama untuk menyimpulkan diagnosa.



(a) (b)

Feses berwarna hijau dan bercampur lendir pada kasus AI (a);
feses berwarna hijau campur warna keputihan dan cenderung encer pada kasus ND (b)
(Sumber : Tony Unandar)

c. Gejala tortikolis (leher terpuntir)

Gejala tortikolis selama ini identik dengan diagnosa ND sehingga penyakit ND sering disebut dengan istilah “tetelo”. Namun jika ditelaah lebih lanjut, tidak selamanya gejala tersebut spesifik mencirikan ND. Pada beberapa kasus AI dapat ditemukan pula kejadian tortikolis meskipun presentasinya sedikit. Gejala tortikolis ini juga spesifik pada serangan penyakit AE (Avian Enchephalomyelitis) dan SMS (Spiking Mortality Syndrome) namun sering disertai dengan tremor (gemetar,red) seluruh tubuh.


d. Gejala pernapasan

Ketiga virus penyebab penyakit ND, AI dan IB selain menyerang saluran reproduksi, juga menyerang saluran pernapasan Manifestasi yang nampak adalah adanya gangguan pernapasan seperti ngorok, bersin, batuk, megap-megap, kesulitan bernapas maupun keluarnya leleran lendir dari hidung ataupun mulut.


3. Perubahan Patologi Anatomi

a. Saluran pernapasan

Pengamatan perubahan patologi anatomi pada saluran pernapasan, akan terlihat lebih spesifik pada kasus IB dimana peradangan terjadi pada bronchus (percabangan trachea,red). Pada kasus ND terkadang menunjukkan gejala pernapasan namun tidak terlalu spesifik. Sedangkan AI, biasanya ditemukan ingus/lendir kental dalam jumlah banyak pada saluran pernapasan maupun rongga mulut sehingga ayam mengalami kesulitan dalam mengambil oksigen.

Pneumonia (radang paru-paru,red) menjadi ciri spesifik AI. Pneumonia ini mengakibatkan kurangnya kadar oksigen di dalam sistem sirkulasi darah sehingga gejala yang muncul jengger, muka dan pial akan tampak berwarna kebiru-biruan. Peradangan yang terjadi pada kasus AI lebih bersifat echimosa yaitu tipe perdarahan dalam bentuk bintik-bintik merah dengan ukuran yang tidak sama besar.


(a) (b)


(c) (d)

Lendir berlebihan pada saluran pernapasan (a); peradangan laryng (b);

trachea (c); paru-paru (d) pada kasus AI

(Sumber : Dok. Medion & Tony Unandar)

b. Lemak jantung

ND dan AI sering menunjukkan perubahan berupa adanya perdarahan pada lemak jantung. Sedangkan pada IB tidak akan menunjukkan gejala perubahan ini. Jika dilihat dari peradangan di lemak jantung, tidak ada yang spesifik untuk membedakan kedua jenis penyakit tersebut.


c. Proventrikulus

Proventrikulus menghasilkan asam klorida (HCl) yang berperan dalam membantu proses pencernaan sehingga kondisi proventrikulus menjadi asam. Pada kasus AI, perdarahan lebih terjadi di proventrikulus bagian depan dan cenderung pada perbatasan proventrikulus dan oesophagus (kerongkongan,red). Hal ini dikarenakan virus AI memiliki sifat tidak tahan asam. Jika ND yang menyerang maka besar kemungkinan peradangan terjadi pada puncak/bintik-bintik proventrikulus, namun ketika serangan sudah parah maka peradangan bisa menyeluruh pada proventrikulus.


(a) (b)

Peradangan pada perbatasan proventrikulus & esophagus kasus AI (a),
puncak proventrikulus kasus ND (b)
(Sumber : Dok. Medion)


d. Usus
Usus terbagi menjadi usus halus, usus besar dan usus buntu. Usus tersebut merupakan organ pencernaan dimana bakteri patogen dan non patogen dapat tumbuh dengan mudah. Hampir semua jenis penyakit pada ayam menunjukkan adanya peradangan pada usus baik ringan maupun berat. Bahkan pada ayam yang tidak mau makan atau ukuran pakan yang terlalu besar juga dapat menyebabkan peradangan di usus.

Ciri spesifik ND adalah adanya peradangan pada peyer patches (lempeng peyer,red) yang disertai peradangan pada proventrikulus. Terjadinya perdarahan di usus memang agak relatif sulit dibedakan antara ND, AI ataupun dengan penyakit bakterial.


(a)


(b)

Peradangan pada usus (a); peradangan pada lempeng peyer kasus ND (b)
(Sumber : Dok. Medion)


e. Organ reproduksi

Adanya penurunan produksi telur erat kaitannya dengan organ reproduksi. Terjadinya gangguan pada salah satu bagian organ maka manifestasinya berbeda pula.


Organ reproduksi ayam betina
(Sumber : Dok. Medion)

Keterangan gambar :

01. Ovarium

02. Infundibulum

03. Magnum

04. Istmus


05. Uterus

06. Vagina

07. Oviduct kanan

08. Ureter

09. Kloaka



Gejala putih telur encer pada IB memang diakibatkan oleh kerusakan pada oviduct (saluran telur) di bagianmagnum. Magnum merupakan tempat dimana terjadi proses pembentukan albumin (putih telur, red).

Berbeda halnya dengan ND dan AI, dimana virus tersebut menyerang pada bagian ovarium/ calon kuning telur. Terkadang kuning telur mengalami pengecilan ukuran, selaput telur membengkak serta mengalami perdarahan.


(a) (b)

Peradangan pada ovarium kasus AI (a); cystic oviduct kasus IB (b)
(Sumber : Dok. Medion)

Apabila organ reproduksi tersebut parah maka manifestasinya adalah penurunan produksi telur yang drastis serta relatif sulit untuk disembuhkan kembali. Pada beberapa tahun terakhir ini, manifestasi IB sering berupa cystic oviduct dimana terdapat penimbunan cairan bening dengan volume hingga 1,5 liter di oviduct.

Dari anamnesa, gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi yang jelas dan spesifik, kita dapat menyimpulkan diagnosa penyakit yang sedang menyerang. Sehingga kita sudah dapat mengambil langkah yang tepat. Sebagai contoh, apabila data-data yang dikumpulkan mengarah ke kasus ND maka kita dapat segera melakukan revaksinasi darurat dengan Medivac ND Clone 45.Jika ayam terindikasi IB maka dapat segera dilakukan revaksinasi menggunakan Medivac IB H-120. Namun yang perlu diingat, revaksinasi sebaiknya dilakukan pada ayam-ayam yang terlihat masih agak sehat. Sedangkan pada ayam-ayam yang sudah parah sebaiknya diafkir. Setelah dilakukan revaksinasi darurat, perlu diberikan vitamin seperti Vita Stress atau Fortevitguna meningkatkan stamina ayam serta membantu pemulihan kesehatan. Yang tidak boleh terlupakan adalah tetap memperketat biosekuriti serta mengurangi faktor penyebab stres pada ayam.


Medivac ND Clone 45 untuk vaksinasi pertama, revaksinasi dan vaksinasi darurat.

(Sumber : Dok. Medion)


Pada beberapa kasus di lapangan, meskipun sudah dilakukan pencarian data meliputi riwayat kasus, gejala klinis, perubahan patologi anatomi, namun belum ada yang spesifik untuk mengindikasikan suatu penyakit. Dalam menghadapi kondisi yang demikian, maka diperlukan data pendukung berupa uji serologi. Uji yang dilakukan berupa HI Test (Haemagglutination Inhibition Test) atau ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay). SampeI yang digunakan untuk uji serologi ini adalah serum sebanyak 0,5 % dari total populasi atau minimal 15-20 sampel tiap flok. Tujuan uji HI test atau ELISA tersebut adalah untuk mengetahui gambaran titer antibodi dalam tubuh ayam sehingga terdapat kemungkinan gambaran titer yang terbaca merupakan indikasi adanya virus tantang di lapangan.

Dalam beberapa kasus di ayam broiler, ayam tidak menunjukkan gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi namun dalam 3 hari kematian mencapai 90%. Ketika dilakukan uji serologi HI test terhadap AI, semua sampel tidak menunjukkan adanya titer antibodi dan ayam belum pernah divaksin. Dalam menyimpulkan data-data seperti ini, peternak pun terkadang masih ragu apakah diagnosa tersebut AI. Namun jika dilihat dari tingkat kematian, diagnosa bisa mengarah ke AI.

Untuk mengetahui secara pasti virus penyebab sakit tersebut, dapat dilakukan uji PCR (Polymerase Chain Reaction) dimana pada uji ini berfungsi untuk mendeteksi ada tidaknya virus di dalam tubuh ayam. Uji PCR menggunakan sampel berupa organ ayam yang mengalami perubahan patologi anatomi, swab (usap,red) tracheaatau kloaka. Sampel yang akan diuji tidak boleh dicuci dengan menggunakan desinfektan karena virus akan mati. Hasil dari uji PCR ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam perbaikan manajemen dan kesehatan ayam pada pemeliharaan berikutnya.

(http://info.medion.co.id).

AI



Mendengar kata AI, merupakan hal yang sudah sangat biasa di telinga kita ibarat mendengarkan lagu-lagu yang sedang hit. AI atau avian influenza, yang secara populer disebut flu burung, sudah hampir 7 tahun menjadi “bagian hidup kita” (peternakan unggas,red). Di Indonesia penyakit AI disebabkan oleh virus AI subtipe H5N1, penyakit ini tidak mudah diberantas. Dari data hasil pemantauan Medion yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali (Prof. Dr. drh. I. Gusti Ngurah Mahardika, kepala Laboratorium Biomedik dan Biologi Molekuler), menunjukkan bahwa virus AI lestari di berbagai peternakan ayam di seluruh Indonesia. Tabel 1 dan 2 menunjukkan bahwa penyakit ini selalu muncul setiap tahunnya dengan jumlah yang bervariasi.

Tabel 1. Kasus AI pada Ayam Petelur


Keterangan : BD = Belum ada data

Sumber : Technical service Medion, 2006-2010

Tabel 2. Kasus AI pada Ayam Pedaging



Keterangan : BD = Belum ada data

Sumber : Technical service Medion, 2006-2010

Virus AI yang ditemukan tahun 2008-2010 secara genetik dan antigenik berbeda dengan virus AI yang ditemukan saat terjadi kasus AI tahun 2003-2007. Tentunya perubahan tersebut tidak lepas dari karakter dasar virus AI yang mudah bermutasi. Perubahan ini juga dipicu dari pemilihan vaksin yang tidak tepat. Jika vaksin yang digunakan tidak mampu memberikan perlindungan dengan sempurna, maka ayam yang tertular akan nampak sehat namun di dalam tubuhnya terjadi perbanyakan virus terus menerus. Hal ini akan menimbulkan cemaran virus (viral shedding) yang sangat tinggi di lingkungan kandang.

Vaksin merupakan salah satu senjata penting dalam mengendalikan AI. Oleh karenanya pengkajian vaksin harus secara terus menerus dilakukan untuk memastikan apakah vaksin masih memberikan perlindungan yang sempurna. Yang dimaksud perlindungan sempurna yaitu ayam tidak sakit, tidak terjadi penurunan produksi dan tidak ada cemaran virus dari pernapasan dan kotorannya.

Virus AI Mudah Bermutasi

Virus AI mempunyai “senjata” untuk mempertahankan diri di alam. Menjadi karakteristik khusus dari virus AI ialah memiliki kemampuan untuk bermutasi di dalam genom RNA. Kemampuan bermutasi ini dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :

a. Faktor internal

Enzim polimerase yang berperan dalam proses replikasi (perbanyakan) virus (PA, PB1 dan PB2) tidak dilengkapi dengan sistem proofreading menjadi faktor utama yang mendorong virus AI bermutasi. Proofreadingmerupakan kemampuan polimerase DNA untuk membaca rangkaian DNA dan memperbaiki kesalahan penyusunan bagian dari salinan untaian DNA. Pada virus AI jika terjadi kesalahan pembacaan susunan asam amino dalam rantai RNA, kesalahan tersebut tidak dapat terdeteksi sehingga akan mengakibatkan munculnya varian baru virus AI.

Faktor internal lain yang berperan dalam proses mutasi yaitu proses multiplikasi virus AI yang terjadi dalam inti sel. Inti sel cenderung mempunyai luasan yang sempit, sedangkan virus AI mempunyai 8 segmen RNA yang saling lepas satu dengan lainnya. Kondisi ini dapat memperbesar kemungkinan kesalahan penyusunan asam amino dalam RNA pada saat proses replikasi .





b. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang memicu terjadinya mutasi virus AI terkait dengan program vaksinasi yang kurang tepat, yaitu penggunaan vaksin dengan kandungan yang tidak homolog (berbeda) dengan virus AI lapangan. Penggunaan vaksin ini tidak akan memberikan perlindungan yang sempurna.

Proses mutasi AI secara umum dibedakan menjadi 2 yaitu antigenic drift dan antigenic shift.

a. Antigenic drift

Mutasi tipe ini, virus AI hanya mengalami perubahan antigenik minor (H/N) yang terjadi dalam 1 subtipe virus. Sifat ini selalu dikaitkan dengan timbulnya suatu epidemi dari penyakit ini. Mutasi antigenic drift akan menyebabkan antibodi yang ada tidak bisa secara lengkap menetralisasi virus. Waktu yang diperlukan untuk proses mutasi ini relatif singkat, + 1 tahun.

b. Antigenic shift
Tipe mutasi ini terjadi saat dua atau lebih subtipe virus AI bercampur dalam satu inang membentuk subtipe baru. Inang yang berperan untuk mutasi ini yaitu babi. Awalnya virus AI yang mengalami mutasi antigenic shiftakan terjadi perubahan antigenik mayor oleh rekombinan H dan N subtipe yang berbeda sehingga dapat memicu timbulnya pandemi (serangan kasus AI yang terjadi secara luas, melewati batas negara). Proses mutasi ini membutuhkan waktu yang relatif lama, sekitar 8-10 tahun dengan efek yang ditimbulkan sangat berbahaya .

Kasus AI di Ayam Pedaging dan Petelur

Serangan AI akan menimbulkan gejala klinis dan patologi yang bervariasi tergantung dari tingkat keganasan virus AI yang menyerang, status kekebalan, umur ayam dan lingkungan. AI dapat menyerang semua organ tubuh mulai dari sistem pernapasan, pencernaan, sel endotel pembuluh darah, sel limfosit dan sistem syaraf.

Hasil pemantauan kasus AI di lapangan selama tahun 2008-2010, berdasarkan perubahan gejala klinis dan patologi anatomi serta peneguhan diagnosa dengan uji Polymerase Chain Reaction (PCR), dapat dilihat tren umur serangan, gejala klinis dan perubahan patologi anatominya.

a. AI pada Ayam Pedaging

Data kasus AI pada ayam pedaging dari 2008-2010 menunjukkan bahwa umur serangan AI dominan terjadi di umur 25-31 (umur panen). Hampir 90% dari kejadian ini bersifat mendadak tanpa diawali dengan gejala sakit, dengan pola kematian semakin meningkat dan bisa mencapai 90%. Meskipun hampir 90% tanpa gejala sakit, namun dari hasil pemeriksaan perubahan patologi anatomi akan ditemukan perubahan-perubahan. Beberapa kasus juga disertai gejala klinis mirip dengan kejadian AI di awal 2004 yaitu ada yang masih ditemukan kerokan kemerahan di kaki dan kulit.


Perubahan patologi anatomi AI grup M10, M12 dan M13 pada ayam pedaging
(Sumber : Dok. Medion)

b. AI pada Ayam Petelur

Kejadian AI pada ayam petelur merata pada umur sebelum produksi maupun setelah produksi, namun lebih dominan pada masa awal sampai puncak produksi.

Serangan AI pada ayam petelur saat ini jarang yang menunjukkan gejala spesifik, meskipun beberapa kasus masih ditemukan cyanosis pada jengger dan kaki. Serangan AI ini sering disebut sebagai AI subklinis. Pola serangan ini diakibatkan tidak cukupnya titer antibodi AI yang beredar di dalam tubuh dibandingkan dengan jumlah virus AI yang menginfeksi, sehingga masih ada virus yang lolos dari pemblokiran antibodi. Virus yang lolos ini akan masuk dan menginfeksi sel target.

Saat virus berada dalam sel target, antibodi hasil vaksinasi tidak dapat mengatasi virus, karena antibodi ini adalah antibodi yang beredar dalam darah (antibodi humoral). Mekanisme yang terjadi adalah sel tubuh akan melakukan penghancuran sel yang terinfeksi virus. Jika hal ini terjadi pada sel telur, maka biasanya akan disertai dengan penurunan produksi secara drastis, sekitar 20-80% dari produksi normal.

Patologi anatomi AI pada ayam petelur
(Sumber : Dok. Medion)


Analisa Isolat Lapangan
Sejak tahun 2008 sampai saat ini, Medion secara konsisten melakukan pemantauan perkembangan kasus AI yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Spesimen AI dari lapangan dikirimkan ke laboratorium Research and Development (R&D) untuk dilakukan peneguhan diagnosa menggunakan PCR. Jika dari hasil uji PCR positif AI, langkah selanjutnya dilakukan analisa struktur genetik virus AI menggunakan DNA sequencer.



(Sumber : Dok. Medion)

Sampai pertengahan 2010, setidaknya ada 33 spesimen AI H5N1 yang telah dianalisa, 14 spesimen dari Jawa Barat, 9 spesimen dari Jawa Timur, 4 spesimen dari Jawa Tengah, 2 spesimen dari Medan dan Kalimantan serta 1 spesimen dari Lampung dan Sulawesi.

Pengecekan kesesuaian spesimen virus AI H5N1 dilakukan dengan menggunakan teknik standar internasional, baik dari OIE (2008) dan WHO (2008). Analisa dilakukan dengan cara mensekuens gen HA pada fragmen HA-1. Fragmen ini diketahui paling berperan dalam menginduksi kekebalan terhadap AI. Hasil sekuens dibandingkan dengan fragmen gen HA-1 dari beberapa virus AI asal unggas Indonesia yang ada di pusat data genetik dunia, GeneBank (http://www.ncb.nlm.nih.gov/genbank/). Data perbandingan genetik ini ditampilkan melalui pohon filogenetik (phylogenetic tree), yang memudahkan kita dalam melihat seberapa jauh perbedaan karakteritik virus AI yang baru dengan virus AI sebelumnya.

Skema 1. Analisis filogenetik isolat AI Medion 2008-2010




Secara umum, hasil analisa tersebut di atas menunjukkan bahwa virus AI di Indonesia ada 4 kelompok besar yaitu M06, M10, M12 dan M13. Virus AI dari pulau Jawa paling banyak variasinya (M06, M12 dan M13), dengan perubahan yang signifikan, terutama Jawa Barat. Perbedaan genetik virus AI tidak tergantung letak geografis. Lihat skema 1 pada M12 group dimana virus AI Kalimantan Selatan bisa mirip dengan virus AI Jawa Barat. Perubahan genetik virus AI tersebut di atas merupakan tipe mutasi antigenic drift.

Hasil ini memberikan bukti pentingnya dilakukan pemantauan perjalanan mutasi virus AI. Hasil pemantauan ini juga bisa dijadikan salah satu analisa mengapa ayam tetap terserang AI, meskipun telah divaksinasi.

Bagaimana Kinerja Vaksin AI Medion terhadap Virus AI yang Berubah?

Melihat perubahan genetik (mutasi) virus AI di lapangan selama 2008-2010, Medion secara aktif melakukan trial secara berkala untuk melihat protektivitas Medivac AI dan Medivac ND-AI terhadap virus AI terbaru tersebut.Trial dilakukan baik di kandang percobaan Biosafety Level 3 (BSL-3) maupun peternakan komersial.


a. Medivac AI dan isolat virus AI lapangan

Trial dilakukan untuk mengetahui tingkat perlindungan Medivac AI terhadap infeksi virus AI hasil isolat lapangan tahun 2008 dan 2009 yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Utara.Trial dilakukan pada ayam petelur specific pathogenic free (SPF) yang divaksin Medivac AI pada umur 4 minggu dan 3 minggu post vaksinasi dilakukan uji tantang dengan virus HPAI (104CLD50). Hasil uji tantang (grafik 1) menunjukkan bahwa titer antibodi hasil vaksinasi Medivac AI mampu memberikan perlindungan optimal (100%).






Grafik 1. Uji Tantang Medivac AI dengan Isolat Lapangan Terbaru (th 2008 & 2009)




Sumber : Trial Medion bekerja sama dengan Laboratorium Biomedik dan Biologi Molekuler, Universitas Udayana, Bali, 2009
*) Farmakope Obat Hewan Indonesia (FOHI), 2004

b. Kinetika pembentukan titer antibodi AI setelah divaksin Medivac AI


Grafik 2. Titer Antibodi AI Hasil Vaksinasi dengan Medivac AI dan Vaksin AI Sejenis


Sumber : data Biological Product Quality Control Medion, 2009


Trial kinetika akan menggambarkan performa pembentukan titer antibodi AI pada kondisi yang netral, tidak ada pengaruh lingkungan. Vaksin Medivac AI diberikan pada ayam petelur SPF umur 3 minggu, kemudian dipantau perkembangan pembentukan titer antibodi setiap minggu. Dalam trial ini, juga digunakan vaksin AI pesaing sejenis.


Hasil di atas menunjukkan bahwa Medivac AI mampu menstimulasi pembentukan titer antibodi secara cepat yaitu 3 minggu post vaksinasi. Titer antibodinya pun lebih unggul dibandingkan vaksin AI pesaing sejenis.






c. Medivac ND-AI pada ayam pedaging


Trial dilakukan untuk mengetahui potensi Medivac ND-AI pada ayam pedaging komersial terhadap pembentukan titer antibodi dan tingkat perlindungan terhadap infeksi virus AI. Trial dilakukan di kandang BSL-3 dengan jadwal vaksinasi umur 10 hari dengan dosis 0,2 ml dan 3 minggu post vaksinasi dilakukan uji tantang dengan virus HPAI dari M06 group (105,8EID50). Trial ini juga menggunakan vaksin pesaing sejenis.


Tabel 3. Titer Antibodi AI




Tabel 4. Titer Antibodi ND








Keterangan:
Titer protektif ND dan AI > 16
cv < 35%


Tabel 3 menunjukkan Medivac ND-AI mampu menstimulasi pembentukan antibodi AI yang protektif pada 3 minggu post vaksinasi, berbeda dengan vaksin pesaing sampai umur 35 hari titer masih di bawah standar protektif. Sedangkan pembentukan titer antibodi ND ditunjukkan pada tabel 4, dimana Medivac ND-AI dan pesaing sama-sama menstimulasi titer antibodi protektif, namun titer dan kesegaraman Medivac ND-AI lebih unggul.


Grafik 3. Indeks Kesakitan (Morbidity Index) terhadap Tantang Virus AI M06 Group




Keterangan :
0 = sehat;
1 = ngantuk, nafsu makan turun;
2 = ambruk;
3 = mati


Hasil morbidity index menunjukkan bahwa Medivac ND-AI mampu memberikan perlindungan yang lebih baik dibanding pesaing dimana nilai indeks kesakitan (gejala klinis) setelah diinfeksi virus lapangan lebih rendah.


Dari trial ini dapat disimpulkan bahwa vaksinasi dengan Medivac ND-AI pada ayam pedaging mampu menekan kematian dan tingkat penularan (viral shedding) lebih baik dibandingkan vaksin sejenis.






Uji Fisik yang Menentukan Kualitas





Uji lain yang tidak kalah penting adalah uji fisik adjuvant yang meliputi viskositas dan mikroskopisadjuvant. Viskositas (kekentalan) adjuvant ini berpengaruh terhadap kemudahan saat aplikasi vaksin (penyuntikan). Selain viskositas, keseragaman mikroskopis adjuvant juga merupakan parameter fisik yang penting. Keseragaman mikroskopis ini akan menentukan keseragaman penyebaran antigen dalam vaksin, sehingga titer antibodi yang dihasilkannya juga lebih seragam.


A : Droplet vaksin AI Medion : halus dan homogen
B : Droplet vaksin AI merek X : besar dan tidak homogen



Program Vaksinasi dan Pemantauan Titer

Panduan umum program vaksinasi AI yang kami rekomendasikan ialah:

Ayam pedaging: 1 kali vaksinasi pada umur 4 hari atau 10 hari menggunakan Medivac ND-AI Emulsionatau Medivac AI dengan dosis 0,2 ml (injeksi subkutan)
Ayam petelur dan pembibit : 3 kali vaksinasi umur 10 hari (0,2 ml injeksi subkutan), 56-63 hari (0,5 ml injeksi intramuskuler) dan 105-112 hari (0,5 ml injeksi intramuskuler) menggunakan vaksin Medivac AI atauMedivac ND-AI Emulsion. Pada ayam petelur dan pembibit setelah masuk masa produksi, pengulangan vaksinasi AI masih diperlukan. Hal ini mengingat bahwa umur serangan AI dari data pemantauan Medion tahun 2008-2010 dominan terjadi pada masa produksi. Untuk menentukan waktu pengulangan vaksinasi yang tepat, diperlukan pemantauan titer antibodi secara rutin. Dengan data ini diharapkan waktu vaksinasi ulang tidak terlambat sehingga tidak terjadi immunity gap (celah, dimana kekebalan tubuh di bawah standar protektif sehingga ayam rentan terhadap infeksi virus lapangan).


Medion telah berkomitmen untuk melakukan pemantauan perkembangan virus AI di lapangan dan secara aktif melakukan perbaikan kualitas vaksinnya, sehingga vaksin yang diproduksi dapat memberikan proteksi yang optimal. Namun demikian, kita ketahui bersama bahwa sebagus (sehomolog) apapun vaksin jika program vaksinasi tidak sesuai kebutuhan di kandang dan tidak didukung biosecurity yang disiplin, kasus outbreak AI akan sangat mungkin masih terjadi.


http://info.medion.co.id